Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti.

Aksaramedia.com, SAMARINDA – Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, menegaskan bahwa persoalan kekerasan dan perundungan terhadap anak di Kota Tepian tidak bisa dianggap sepele. Ia menyebut, berdasarkan data periode Januari hingga Agustus 2025, tercatat 117 kasus kekerasan dengan 142 korban anak di Samarinda.
“Tentu kita melihat kejadian kekerasan terhadap anak ini cukup miris, ini harus kita usut tuntas mengapa kejadian ini terus berulang,” ujar Sri Puji, Kamis (16/10/2025).
Menurutnya, faktor pemicu kekerasan terhadap anak kerap berasal dari lingkungan internal keluarga, seperti tekanan ekonomi dan ketidakharmonisan hubungan orang tua. Ia menilai, peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar harus berjalan beriringan untuk memastikan perlindungan anak berjalan efektif.
Sri Puji juga menyoroti kasus perundungan di lingkungan sekolah yang semakin sering terjadi. Ia mengingatkan bahwa dampak perundungan dapat memengaruhi tumbuh kembang anak, baik secara emosional maupun akademik.
“Pendidikan karakter tidak boleh diabaikan, dimulai dari PAUD hingga SD. Pembentukan karakter harus mendapat perhatian serius, karena keluarga adalah madrasah pertama bagi seorang anak,” tegasnya.
Ia menambahkan, pembentukan akhlak dan etika sejak dini menjadi langkah pencegahan paling efektif untuk menekan angka kekerasan. Namun, menurutnya hal ini tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah.
“Perlindungan anak harus melibatkan semua pihak. Jika orang tua belum siap dengan pengetahuan tentang parenting, maka risiko kekerasan semakin besar. Edukasi keluarga sangat penting,” tutupnya. *(Adv/DPRD Samarinda/gt)
