Terowongan Samarinda.

Aksaramedia.com, SAMARINDA – Pembangunan Terowongan Selili di Jalan Kakap, Kelurahan Sungai Dama, Samarinda Ilir, menuai protes keras dari warga RT 19. Pasalnya, aktivitas konstruksi proyek tersebut menyebabkan sejumlah rumah di sekitar lokasi mengalami kerusakan. Kejadian ini pun mendapat perhatian serius dari DPRD Kota Samarinda.
Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, Abdul Rohim, menyayangkan dampak yang ditimbulkan dari proyek strategis tersebut hingga merugikan warga. Ia menegaskan agar pihak kontraktor bersikap kooperatif dan bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi.
“Ya, pada prinsipnya kita minta kontraktor bersikap kooperatif aja,” tegas Abdul Rohim.
Menurut Rohim, meskipun proyek tersebut bernilai besar dan berorientasi profit, pihak pelaksana harus tetap memperhitungkan dampak sosial dan lingkungan di sekitarnya.
Jika terbukti menyebabkan kerusakan, maka tanggung jawab sepenuhnya berada di pihak kontraktor.
“Dia (kontraktor) pasti mengetahui regulasinya. Jika melakukan pekerjaan dan itu berdampak menyebabkan kerusakan terhadap infrastruktur sekitar, maka itu sudah jelas dia mesti bertanggung jawab. Salah satunya ganti rugi,” ujarnya.
Rohim juga meminta agar pengelola proyek segera melakukan pengecekan intensif terhadap dampak konstruksi, khususnya pasca pelaksanaan Pile Driving Analysis (PDA) Test.
Uji ini dilakukan pada Rabu (15/10/2025) untuk mengukur kekuatan pondasi dengan cara menghantamkan palu hammer seberat 6 ton ke tiang pancang. Namun, getaran kuat dari proses itu justru memicu kerusakan parah di rumah-rumah warga sekitar.
“Kedua kita minta juga kontraktor melakukan pengecekan di area-area yang terjadi kerusakan. Apa benar hanya karena dampak aktivitas PDA Test atau sebenarnya ada penyebab-penyebab lain,” imbuhnya.
Rohim berharap, setelah kejadian ini, pemerintah dan kontraktor melakukan evaluasi serta mitigasi berkala agar hal serupa tidak kembali terjadi. Ia mengingatkan pentingnya komunikasi dan transparansi kepada masyarakat agar tidak menimbulkan persepsi negatif terhadap proyek pembangunan.
“Jangan sampai persepsi warga menjadi negatif terhadap pembangunan terowongan. Makanya perlu dilakukan mitigasi sebelum kejadian ini terulang,” tandasnya. *(Adv/DPRD Samarinda/gt)
