Wakil Ketua Komisi IV, Sri Puji Astuti.
Aksaramedia.com, SAMARINDA – Kasus Tuberkulosis (TBC) dan HIV-AIDS di Kecamatan Palaran meningkat signifikan sepanjang 2025, memicu kekhawatiran DPRD Samarinda terhadap potensi “bom waktu” kesehatan masyarakat.
Palaran tercatat melayani sekitar 44 ribu jiwa dan menjadi salah satu wilayah dengan kasus TBC dan HIV tertinggi di Samarinda. Puskesmas setempat memiliki alat TCM (Truenat Cartridge Module) untuk mendeteksi TBC secara cepat.
“Dari data yang kami terima, wilayah ini termasuk dengan kasus TBC dan HIV tertinggi di Samarinda,” ujar Wakil Ketua Komisi IV, Sri Puji Astuti.
Hingga Oktober 2025, terdapat sekitar 50 pasien TBC, dengan 40 di antaranya masih menjalani pengobatan aktif.
Beberapa pasien merupakan anak-anak. Meski obat dari Dinas Kesehatan mencukupi, kendala utama terletak pada rendahnya kesadaran pasien dan keluarga untuk minum obat secara rutin.
“Banyak keluarga pasien menolak minum obat karena merasa sehat. Padahal mereka berisiko menularkan TBC laten yang bisa menjadi bom waktu,” tegas Puji.
Pansus IV juga menemukan kasus infeksi menular seksual (IMS) pada remaja, termasuk anak berusia 13 tahun, yang menunjukkan risiko pergaulan bebas di usia muda dan potensi penularan HIV.
Puji berharap hasil kunjungan ini menjadi bahan evaluasi pemerintah untuk memperkuat edukasi dan pencegahan penyakit menular.
Ia menilai pencegahan jauh lebih murah daripada pengobatan, dan kesehatan berpengaruh langsung pada produktivitas masyarakat. *(Adv/DPRD Samarinda/gt)
